Blog, Cara, Tips, Pendidikan, Gayo, Aceh Tengah, Mahasiswa, Komputer, Printer, Teknologi, Google

Tampilkan posting dengan label cerpen. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label cerpen. Tampilkan semua posting

Cerpen Persahabatan

 
Cerpen Persahabatan ini bukan karya saya, melainkan dari situs kukejar.com yang tidak ditulis siapa pengarangnya, mungkin saja admin blog itu sendiri. Apakah ini adalah Cerpen tentang Persahabatan Terbaru, Terbaik atau Keren ?? entahlah biar sobat sendiri yang menilai, dan bisa memberikan respon setelah membaca pada kotak komentar yang telah kami siapkan. Bagi sobat yang bukan blogger, siapa tau ingin berbagi karya nya di blog ini kirim saja ke email funnyboyz.17@gmail.com (karya apa saja boleh, kalau memang menarik pasti admin posting >> Tenang Hak Cipta dilindungi, admin tidak clain itu karya admin, biodata singkat anda juga akan dilampirkan pada bagian akhir cerita (jika berkenan).


Oke segera deh kita simak sebuah Cerita Pendek (Cerpen) Persahaban berikut yang saya sendiri tidak tau Temanya :
  
++++++

CERPEN PERSAHABATAN :

 "Cerpen Persahabatan Sejati"

"Senyum Terakhir"
Dengan nafas yang terengah-engah setelah mengendarai sepeda. Aku terhenti saat ku melihat dia, aku tak tau siapa dia. Wajahnya cukup cantik dan manis, aku singgah membeli segelas air untuk melepaskan dahaga yang melanda tenggorokanku.

Setelah beristirahat aku langsung menggayuh pedal sepeda untuk pulang ke rumah. Sesampai dirumah, kedua orang tuaku sedang pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tau. Aku segera pergi mandi karena badanku sudah bermandi keringat. Setelah mandi aku memakai pakaian dan menuju taman yang tak jauh dari kompleks rumahku. Aku kaget si dia juga sedang berada ditaman. Tanpa pikir panjang aku langsung menghapirinya.
“Hai…..”, kataku

Dengan senyum aku menyapanya.
Tapi dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah novel. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.

“Hai.. boleh kenalan gak?”.
“Iya ada apa?”, katanya sambil menatap novel yang dibacanya.
“Aku boleh gak kenalan? Namaku Zhaky”, sambil mengulurkan jemariku.

Dia langsung berdiri lalu meletakkan bukunya di atas kursi dan memberi tah u namanya.
“Namaku Tamara”, katanya dengan senyum.
“Kamu tinggal dimana?”, kataku.
“Aku tinggal di sebelah kiri toko buku dekat gerbang kompleks. Aku baru pindah kemarin.”
“Oooo…. Kamu anak baru yah?”.
“Memang kenapa?”.
“Tidak kenapa-kenapa kok”.
“Ayo aku temani jalan-jalan di taman ini. Lagi pula gak enak juga kalau suasananya begini-begini saja”, pintaku.
“Ok.. baiklah”, katanya dengan lembut.

Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan si dia yaitu Tamara. Kami berjalan mengeliling taman, dari pada hanya terdiam lebih baik aku memulai pembicaran. Aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan kami selalu menyelingi pembicaraan kami dengan candaan yang cukup untuk mengocok perut hingga sakit.
Sekarang sang mentari akan kembali ke peraduannya. Kami berjalan pulang bersama karena arah rumah kami searah. Tamara berada di depan kompleks sedangkan rumahku ada di lorong kedua sebeleh kanan di kompleks tempat tinggalku. Sesampai di depan rumah Tamara kami berhenti dan menyempatkan diri untuk bercanda sebentar.

Suara teriakan Ibunya yang memanggil membuat kami berdua kaget.
“Tamara… Tamara… ayo cepat masuk, udah hampir malam nih!, teriak ibunya.
“Ya bu.. tunggu!, Zhaky aku duluan yah?”, katanya dengan senyum.
“Iya...”, kataku sembari membalas tersenyumnya.
“Kamu juga cepetan pulang, nanti di cariin sama Ibu kamu”.
“Ok… aku pulang yah.. dadah..!, sambil berjalan dan melambaikan tangan.

Di perjalanan, aku hanya bisa berkata “baru kali ini aku bisa cepat berkenalan dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Tamara”. Kini aku berjalan di antara jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dari lampu jalan yang mulai redup dan di kerumuni serangga.

Sesampai di rumah aku di marahi oleh Ibuku.
“Kamu ke mana aja”?, bentak Ibu.
“Maaf Bu, aku tadi dari keliling taman”, kataku sambil menunduk.
“Lain kali jangan pulang telat lagi yah?”.
“ Iya Bu”, sembariku meninggalkan ibu di teras rumah.
***

Keesokan paginya aku bertemu dengan Tamara, ternyata aku sama sekolah dengan dia, kemarin aku lupa nanya sih. Aku langsung berlari menghapirinya.
“Tamara… Tamara…. tunggu aku!”, kataku sambil berlari.

Tamara berhenti dan memegang pundakku.
“Masih pagi-pagi kok dah keringatan kayak gini?, ini usap keringatmu!”, katanya sembari menyodorkan sapu tangannya.
“Iya nih, kamunya tuh. Kamu jalannya cepat amat” .
“Iya maaf”, kataya sambil tersenyum.
“Ayo buruan entar pintu gerbang di tutup”.

Sesampai di sekolah aku langsung ke kelas dan ternyata Tamara juga sekelas dengan aku. Dia duduk di sampingku, karena Dino teman aku baru pindah sekolah dua hari yang lalu. Tamara naik dan memperkenalkan dirinya ke teman-teman kelasku.
“Hai perkenalkan namaku Tamara Adelia, panggil aja aku Tamara. Aku baru pindah dari Makassar kemarin, semoga kita semua bisa menjadi teman yang akrab”.
“Ok….”, Teriak semua temanku.

Kini kami semakin dekat. Kami selalu bersama, kami duduk di depan kelas sembari bercerita tentang tugas sekolah.

“Kamu suka pelajaran apa?”, tanyaku.
“Aku paling suka pelajaran matematika”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, padahal pelajaran itu agak rumit dan memusingkan”.
“Karena aku suka aja dengan pelajaran itu, kalau kamu sukanya pelajaran apa?”.
“Aku paling suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, yah pelajaran sastra”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, tanyaku.
“Seperti kamu tadi, aku suka aja dengan pelajaran itu. Aku sudah buat beberapa cerpen, mau baca?”, kataku sambil menyodorkan beberapa cerpen karyaku.
“Ini buatan kamu?, aku gak percaya”.
“Iyalah, ini buatan aku. Kamu baca yah dan berikan saran, ok?”.
“Ok…”, katanya sambil tersenyum.
***

“Tttttttteeettt….”, Bunyi bel menandakan kami akan melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Tapi, guru yang mengajar tidak datang. Jadi aku dan Tamara bersama teman-teman yang lain hanya bercerita tentang hal-hal yang dapat mengocok perut.

Tak lama kemudian, kami pun pulang. Aku bersama Tamara dan temanku yang lain berjalan menuju pintu gerbang, menertawai hal yang tak patut ditertawai. Di perjalanan pulang Tamara berteriak, “Auuuuhh sakit, Zhaky bantu aku berdiri!” pintanya sambil meneteskan air matanya. kaki Tamara tersandung batu, dan kelihatannya kaki Tamara Terkilir.
“Sudah jangan nangis donk, pasti kamu akan sembuh kok”, kataku menyemangati.
“Iya Zhaky, tapi kaki aku sakit banget. Bantu aku berdiri donk!”, pintanya
“Auuuuhh…. Sakit!!”, katanya sambil merintih kesakitan.
“Sini biar aku gendong deh, gak apakan?” .
“Betul mau gendong aku, aku berat loh!”, katanya sambil tersenyum.
“sakit-sakit gini sempat aja ngelawak, sini naik cepat”.
“hehehe…. Aku beratkan?”, tanyanya, sambil tertawa.
“Gak kok..”, kataku sambil tersenyum.

Sesampai di depan rumah Tamara, Ibunya yang sedang membaca koran kaget saat melihat kedatanganku yang menggendong Tamara.
“Tamara, kamu gak apa-apakan nak?”.
“Gak apa-apa kok Bu”, kata Tamara.
“Kakinya terkilir tadi waktu jalan pulang tante”, kataku.
“Terima kasih yah nak ….”
“ Zhaky, tante!”, ucapku dengan maksud memperkenalkan diri.
“Iya terima kasih yah nak Zhaky”, katanya sambil tersenyum.
“Tamara, tante, Zhaky pulang dulu yah?”, kataku.
“Iyaa nak Zhaky, kapan-kapan main ke rumah yah?”, kata ibu Tamara.
“Baik tante”, kataku sambil tersenyum.
Sehabis menggendong Tamara punggungku rasanya ingin copot, benar juga kata Tamara badannya berat. Tapi, tidak apalah dari pada sahabat aku Tamara gak pulang ke rumah. Sesampai dirumah aku langsung melepas pakaian dan makan siang. Sesudah itu aku langsung tidur karena aku lelah banget udah gendong Tamara.
***

Keesokan paginya aku menunggu Tamara di depan rumahnya. Saat melihat dia keluar rumah, dia sudah bisa berjalan dengan baik. Aku kaget dan bengong melihatnya.
“Woii kamu kenapa bengong kayak gitu?”, tanyanya sambil mencubit pipiku.
“Akh gak apa kok!, eh kok cepat amat sembuhnya?”.
“Iyaa nih, semalam aku dibawa ke tukang urut, rasanya sakit amat waktu di urut”.
“Baguslah, daripada berjalan dengan pincang”, kataku sambil tersenyum.
Sampai di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, aku dan Tamara bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Naila.
“Kita mau ke mana ?”, tanyaku memotong pembicaraan.
“Kita akan pergi liburan, baiknya kita ke mana?”, kata Denny.
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat rekreasi terkenal di kota ini!”, kata Tamara.
“Baiklah kita akan ke pantai Bira!”, kataku.

Tak sabar menunggu saat itu, aku menceritakan sedikit tentang pantai Bira kepada Tamara. Kami tidak memerhatikan penjelasan guru, akibat cerita kami yang semakin mengasyikkan. Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengan Tamara walau sekejap saja. Tapi, mungkin itu cuman perasaanku saja. Kami berkeliling sekolah mencari hal-hal yang baru dan melupakan apa yang aku banyangkan tadi.

Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi kami berlari ke kelas. Kami berlari sambil tertawa dengan senangnya. Rasanya hal ini adalah hal yang terindah bagiku. Sesampai di kelas kami duduk dan menunggu guru. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pun datang.

Aku merasa agak tidak enak badan. Tamara iseng mencubit pipiku dan Tamara kaget.
“Zhaky kamu gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku gak apa-apa kok”, kataku dengan nada yang pelan.
“Kamu sakit dan aku harus antar kamu pulang!”, katanya sambil berjalan menuju guruku.
“Pak, Zhaky sakit”, katanya.
“Baiklah bawa dia pulang, kamu mau mengantarnya?” tanya pak guru.
“Iya pak aku bisa kok”, katanya.

Berhubung sudah hampir pulang Tamara memasukkan barang-barangku ke dalam tas
lalu dia juga membereskan barang-barangnya.
“Ayo aku antar kamu pulang”, katanya.

Tamara meminta izin mengantar aku pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Tamara selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat, “Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir”.
Sesampai di rumah aku langsung di bawa Tamara ke kamarku sembari ibu mengomel-ngomeliku.
“Ini sebabnya kalau makan gak teratur”, katanya.
“Sudah tante, Zhaky ‘kan lagi sakit”, pinta Tamara ke Ibuku.
“Biarlah nak, biar dia tahu rasa”, kata Ibuku.
“Kalau begitu aku pulang dulu tante”.
“Nak nama kamu siapa?”.
“Nama aku Tamara, tante”.
“Terima kasih yah nak Tamara, udah bawa pulang anak tante ini”.
“Iya, sama-sama tante”, katanya.
Aku melihat senyuman indah dari Tamara saat akan keluar dari kamarku.
***

Keesokan paginya, rasanya badanku udah sehat. Aku bergegas menyiapkan barang yang akan ku bawa. Aku mandi dan sesudah itu berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Tamara. Tapi, Tamara sudah berangkat duluan. Aku langsung ke sekolah. Sampai di sekolah aku melihat Tamara dan langsung menghampirinya.
“Zhaky, kamu udah sembuh?”, katanya.
“Iya.. aku udah sembuh kok”.
“Betul aku udah sembuh”, kataku sambil meraih tangannya dan meletakkannya di keningku.

Tak berapa lama kemudian, bus yang akan mengantar kami ke pantai Bira pun datang. Aku duduk di belakang bersama anak lelaki lainnya. Tamara berada di depan bersama teman wanitanya. Di perjalanan rasa gelisahku semakin tak menentu. Aku memiliki pirasat buruk dan naas tak berselang beberapa lama mobil yang aku tumpangi kecelakaan.

Aku merasa kepalaku sakit, saat ku pegang kepalaku mengeluarkan darah yang banyak. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang adalah Tamara. Aku langsung berteriak dengan nada yang lemah. “Tamara.. kamu gak apa-apa, kan?”. Aku tak mendengar suaranya. Aku melihat teman-temanku terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat aku ke tempat duduk Tamara, aku melihat kepala Tamara mengeluarkan banyak darah. Rasa sakit yang aku rasa membuat aku pingsan.
“Zhaky, Zhaky, bangun nak, ibu di sini”, kata ibuku sambil menangis.

Mendengar suara itu, aku terbangun. Aku sekarang berada di rumah sakit, aku kaget dan berteriak.
“Dimana Tamara Bu? Tamara baik-baik sajakan Bu?”.

Ibu hanya terdiam sambil menatap ayah.
“Ibu apa yang terjadi?”, aku mulai meneteskan air mata.
“Maaf nak, kini Tamara sudah berada di tempat lain”, dengan nada yang pelan ibu memberitahuku.
“Jadi maksud ibu?”.
“Iya Nak, Tamara telah meninggal akibat kecelakaan itu”, kata ibu sembari memelukku.

Aku terduduk di ranjang dan dipeluk ibu sambil menangis dengan keras dan berkata “ kenapa dia terlalu cepat meninggalkan aku Bu?”. Aku terdiam dan mengingat saat aku sakit, dia memberiku senyuman yang kuanggap indah itu dan menjadi senyuman terakhir darinya. (SELESAI)

++++

Demikinlah sebuah Cerpen Persahabatan Untuk Anda, Silahkan tinggalkan Komentar.


hadhara rizka cerpen, Persahabatan

Saya tau, di Negeri ini banyak Anjing - Cerpen


Catatan Mahasiswa Gayo - Penjajahan harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kawan, dalam pembukaan UUD 1945 telah jelas dikatakan,bahwa yang namanya penjajahan dan pemerkosaan hak-hak yang bertentangan dengan kemanusiaan,hal itu harus di lawan, dibunuh dan jangan lupa kawan, hal itu telah terjadi di negerimu sendiri.

Ada orang, sama dengan ”anjing” anjing yang kerjaanya menjilat sana sini. kawan, seandainya pantat ”BOS” kamu dilumuri madu pasti akan kau jilati, karena tanpa madupun sudah kau jilati.

Tau kah kamu kawan, anjing – anjing itu, anjing anjing itu ada disekitarmu, disekitar kelompokmu, dia bermuka dua. Kadang memakai kopiah, kata-katanya begitu manis, namun hatinya begitu pahit, dia juga selalu mengerjakan shalat, namun ia tidak mengerti bahwa shalat itu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, dia lupa akan hakikat shalat itu kawan.

Dia seperti anjing, anjing yang suka menjilat pantat, rakus, menerkam makanan kawanya.Sungguh biadab hewan yang bernama anjing itu. Awas, dan waspadalah dia ada dikelompokmu kawan.

Ketika engkau di zholimin kawan, di zholimin oleh penguasa, seharusnya engkau mengikuti petuah Nabi, Petuah tokoh-tokoh Revolusi, meskipun mereka mati, meraka mati dalam keadaan suci kawan.

Barusan saja aku menerima sms dari jenderal, bahwa aku esok akan di eksekusi, ada berita pahit yang harus ku telan, tapi manis untuk di perjuangkan, itulah bagian dari kesungguhan ceritaku kawan.


Mereka yang pernah ku kenal, termasuk anjing anjing itu didalamnya, dan jenderal itu. SOE HOK GEI, aku ikut jalanmu, jalan yang pernah kau katakan pada ku” lebih baik diasingkan, ketimbang menyerah kepada kemunafikan.” engkau memang begitu muda meningalkan dunia ini, namun engkau begitu tua untuk di kenang Negara ini, kini, aku ingin sekali kau mendengarkan kesuguhan Cerita ku GIE.

Disini, GIE, di negeri ku ini, banyak sekali anjing anjing penjilat, padahal nenek moyangnya tidak pernah mencontohkan menjadi seorang penjilat. Nenek moyangnya konon katanya penguasa negeri ini, negeri yang kuat, keturuananya sampai ke pe hujung Asia. Peradabannya begitu tua, filosofi bahasanya begitu meyatu dengan islam, tapi itu bohong GIE, sama sekali bohong. Disini manusia kerdil yang tumbuh, mental onani yang muncul, sikapnya seperti bunglon, hatinya penuh rasa cemburu, susah melihat orang senang, senang melihat orang susah.

Inilah negeri antah Barantah, negeri yang dulu begitu megah, danau yang begitu indah, indah buat orang pendatang, mereka menikmati kota, menikmati ekonomi, menikmati kopi, sementara yang lain jadi kuli, hhuuf..!! itulah negeri kami GIE, negeri yang seksi, barang mahal, banyak disanjung orang, hingga mereka yang datang membawa bekal dari negeri ini.

Di Negeri ini Gie, negeri yang sudah kehilangan kewibawaanya, akibat banyaknya kepentingan asing, masuk mempengaruhui kebijakan , baik ekonomi, politik , budaya bahkan kedaulatnya.

Bukan hanya itu Gie, pemimpin pun tidak ada wibawanya lagi bagi rakyatnya?

Haruskah aku mati muda seperti mu GIE?

Sejak itu, perasaan itu menyiksaku, ini berasal dari pengalaman pahit yang ku telan, kini kita jadi Buruh, inilah akibat ketidak beranian mengeluarkan pendapat, akibat ketakutan di pecat oleh jenderal, sangat pencundang di kau kawan. Jangan takut karena benar kawan, takutlah karena salah dan lemah dalam berpikir.

Ada suatu masa engkau kehilangan harapan dan duniamu tiba-tiba jadi gelap, ketika itu, kau adalah seorang pemuda yang menumpahkan segenap kepercayaan kepada kemuliaan kerja, kau merasa mampu melakukan apa saja, punya impian mecakar langit, waktu itu kau baru saja memulai karirmu, tapi nyatanya semua semangatmu dibuat nihil oleh tembok-tembok penjara, dan hidup mu diatur oleh ancaman bedil dan baionet penguasa Belanda, tak ada setitik sinar kebebasan padamu, dan kau merasa hidup mu berakhir, itulah makanya engakau jadi anjing anjing itu kawan, bukan begitu kawan?

Dalam hati, saya bilang, Tuhan, kalau saya tidak dipergunakan dalam kehidupan ini, ambilah nyawa saya, hari itu saya duduk didalam tembok, saya lihat tembok dalam remang-remang kegelapan, dari tembok itu ada seekor macan yang mau menerkam saya, kemudian terdengar suara, engkau siapa dan apa yang engkau kehendaki sekarang, sampai saat sekarang ini kawan, pertanyaan itu tidak dapat ku jawab kawan?

Negeri ini sedang menghiasi dirinya dengan seribu pesta kemeriahan dan bendera warna warni, dalam tiga Abad setengah Tahun, dirampas kebebasan, sampai detik ini, saya menjadi orang tanpa kebebasan, menjadi orang sarjana. Justru karena itu kawan, kalau saya mempunyai sikap yang keras, saya kira itu wajar.

Malam itu orang-orang yang cinta kemerdekaan datang ke warung kupi, ingin mendengar aku bicara, lalu aku berbicara tentang sejarah, bagi ku sejarah adalah rumah tempat aku berangkat mengembarai dunia. Malam itu, semua orang merasa ada kemerdekaan di warung kupi, dan aku merasa bangga kawan, dan ibu ku wanita penuh kasih yang mengajarkan kebebasan kepadaku, tentu aku merasa banga, atas ajaran Ibuku sendiri. Seorang ibu mengajarkan padaku, jadilah manusia bebas, jadi majikan bagi dirimu sendiri, tapi jangan melanggar Hak orang lain. Kini aku datang mendengarkan pesan itu padamu kawan.

Waktu itu saya tau, tidak ada satu orangpun yang membantu saya, adakah kenangan yang mucul disana? adakah renungan tentang takdir yang selalu membawa mu pada hidup yang getir? tapi aku sendiri tidak percaya pada takdir! dan semua penderitaan, penghinaan, dan penindasaan yang aku alami, justru membuatku menjadi kuat dan siap menghadapi apapun.

Keberaniaan itu bukan anugerah, tapi hasil latihan hidup sehari-hari, keberaniaan itu sama seperti otot manusia, kalau tidak dilatih dia akan jadi lemah. Dalam hidup ini kita menghadapi banyak tantangan, latihan pertama adalah jangan lari, hadapi semua, itu cara untuk melatih keberaniaan (Pramoedya).

Selamat bekerja kawan, jaga dirimu kau masih diperlukan oleh Hidup ?

Apa yang susah untuk sebuah resolusi seumur hidup? Tidak ada. Apakah saya mengeluh karena berkerja 16 Jam sehari demi mengumpulkan uang receh rupiah. Apakah saya merasa malu berkata kepada Istri saya, Adinda, sudikah kiranya adinda meminjami saya uang?Tidak.

Istri merongoh kantongnya dan meminjamiku uang, melalui satu kebijakan tata Buku seperti ini:

Upah radi dibayar dimuka Rp 2.000.000 (debet)
Pada
Utang radi kepada paman Rp. 2.000.000 (keridit)

Dilengkapi dengan satu footnote, kapan utang itu harus dikembalikan?
Itu artinya, bulan depan aku tidak akan diupah paman karena ia memberiku utangan.

Kawan, kebenaran adalah prinsip yang tertinggi, termasuk juga beragam prinsip lainya. Kebenaran ini tak hanya kejujuran dalam kata, tetapi juga kejujuran dalam pemikiran, dan bukan hanya kebenaran relatip di pemikiran kita, melainkan kebenaran Mutlak, prinsip yang Abadi.Yaitu Tuhan.

Kawan, meskipun engkau di tindas, jangan takut kawan, untuk mengatakan kebenaran itu, yakinlah kawan kalau Tuhan itu ada bersama kita.

Walaupun kawan, pengorbanan itu taruhan nyawa hidup saya, saya berharap, sudah siap untuk menyerahkanya. Namun selama saya masih belum menyadari kebenaran Mutlak ini, selama itu pula saya harus meyakini kebenaran relatif sebagaimana yang saya pikirkan. Kebenaran relatif itu harus menjadi mercusuar, perisai dan alat pelindung saya.

Meskipun jalan ini sangat sempit dan tajam bagai mata silet, namun bagi saya ini adalah jalan tercepat dan termudah. Karena jalan ini telah melindungi saya dari kegagalan, dan saya telah melangkah maju menurut hemat saya. Sering kali dalam perjalanan saya, sekilas memandang samar kebenaran Mutlak, Tuhan dan tiap hari keyakinan tumbuh didalam diri saya, bahwa Ia adalah nyata dan segala yang lainya tidak nyata.

Kayakinan yang lebih jauh telah tumbuh didalam diri saya, bahwa apapun yang mungkin bagi saya juga mungkin bagi seorang bocah, dan sepertinya masuk akal mengatakan hal seperti itu. Saya berharap dan berdoa bahwa anjing- anjingku yang nakal akan berubah menjadi anjing pemakan majikanya.

***

Aceh Tengah Musnahkan Anjing Liar. Takengon - Guna memutuskan mata rantai penyebaran penyakit rabies di Aceh Tengah, Dinas peternakan dan perikanan (Distannakan) akan memusnahkan (eliminasi) anjing-anjing liar.pemusnahan itu akan dilakukan pada malam hari, dengan mendatangi kawasan-kawasan peyebaran anjing liar di kota Takengon dan kecamatan lain yang terindikasi adanya kasus gigitan anjing liar. Pemusnahan Anjing itu dilakukan secara musiman, bila ditemukan peningkatan kasus gigitan anjing di tengah-tengah masyarakat.(serambi 12 Juni 2011. Hlm 14).

Kita salut dan banga atas tindakan kepala Distannakan Aceh Tengah, Ir Absardi MM, sabtu (11/6) mengatakan, petugas akan melakukan eliminasi anjing-anjing liar yang berkeliaran di kota Takengon dan kawasan-kawasan sering ditemukan anjing liar.

Kawan, ternyata secara medis seekor anjing yang sudah terkena penyakit anjing gila, cenderung berprilaku agresif dan menyerang melukai anjing-anjing lain yang masih sehat sehingga penyakit rabies terinfeksi ke anjing yang diserang itu. Akibatnya , jumlah populasi anjing gila dari hari ke hari semakin meningkat.

Berita ini mengingat kan aku sepuluh Tahun yang silam, waktu itu tetanga kami punya anjing yang sangat galak, hampir semua keluargaku digigit anjing tetangaku itu. Namun kenapa anjing itu tidak pernah mengigit majikanya, pertanyaan itu sampai saat sekarang ini, tidak dapat aku menjawabnya kawan ? kawan, bisakah engkau membatu menjawab pertanyaan itu ?

GIE, di negeri ini begitu banyak anjing dan jenis-jenisnya, sebenarnya aku malu mengatakan ini padamu. Apakah harus ku sampaikan pada ibu ku? aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukan malam, dengan jalan pikiranku. Apakah harusku sampaikanlah pada Bapaku? aku mencari jalan, atas semua kereshan-keresahan ini, kegelisahan manusia.

Malam yang dingin, tak kan pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki keadilan. Kawan, berbagilah dengan alam kelak engkau tau siapa sebenarnya hakikat manusia, berjuanglah kawan, berjunglah, pecahkan teka-teki keadilan. Mari kita telusuri jalan yang setapak ini,semoga kita temukan jawaban.

Ada distorsi di Negeri ini ?

Saya di tuduh berbohong! Itu amat meyakitkan saya. Bagaimana cara saya membuktikan diri, bahwa apa yang saya katakan adalah benar ? tak ada cara lain. Selain menagis, dengan kesedihan yang sangat mendalam. Saya pikir orang ”jujur” tentulah orang penyayang. Ini merupakan kejadian kecerobohan saya untuk memilih teman.

Ada Perdana Menteri (PM) di Negeri Kami Gie, orangnya Penuh dengan Pembawaan wibawa, gaya bicara berwibawa, namun isi nya kosong, sepuluh pembicaraan yang keluar dari mulutnya, sebelas kebohongan yang keluar pula dari mulutnya. Itu bagian karekter orang yang inggin dipuji kawan.

Aku berpikir bahwa kekuatan emosi mungkin sedang meliputiku. Dengan marah, penderitaan dan kesepian memenuhui setiap sisi kehidupanku, aku tersesat satu atau dua langkah dari jalan setapak, dan aku akan kehilangan mereka, jatuh kedalam jurang putus asa. Apa guna air mata segelintir jiwa yang lembut apabila hanya menghadapi terlalu banyak kekejaman ?

Kawan, mestinya apapun yang telah kamu putuskan untuk kamu jalani itulah jalan yang terbaik bagi dirimu, dan kamu anggap hal itu mampu kamu lalui apapun rintanganya, selamat malam raddi, kamu tidak sendiri, semoga merasa damai dan bahagia selalu !! ujar Gie, ketika aku memandang gambarnya.

Ditulis oleh MAHARADI GAYO http://www.facebook.com/#!/notes/maharadi-gayo/saya-tau-di-negeri-ini-banyak-ajing-maka-berikanlah-opini-terhadap-tulisan-cerpe/10150279450959703 sudah mendapat izin publikasi dari penulisnya.

hadhara rizka cerpen

Copyright © 2012 CATATAN MAHASISWA GAYO | Design by Mas Sugeng dan Mas Zaid dan Blogger Design3 | Powered by Blogger |